Press ESC to close

Contoh Review Jurnal Internasional

Hallo Sobat Bima Publisher! Sedang mencari contoh review jurnal internasional untuk tugas kuliah, keperluan peer review, atau sebagai landasan literature review penelitian Anda? Artikel ini menyajikan tiga contoh review terbaru dari tiga bidang berbeda — pendidikan & teknologi AI, kesehatan digital, dan ekonomi berkelanjutan — dengan format 2026 yang sudah menyesuaikan standar terbaru jurnal-jurnal bereputasi seperti Scopus dan Web of Science.

Standar review jurnal internasional berubah cukup signifikan sejak 2025. Ada beberapa komponen baru yang kini menjadi standar wajib, misalnya AI usage declaration (pernyataan penggunaan AI), data availability statement, dan ORCID verification. Kami akan menjelaskannya satu per satu, lengkap dengan tips menulis, kesalahan umum, dan template siap-pakai. Simak sampai selesai, ya!

Pengertian Review Jurnal Internasional

Review jurnal internasional adalah proses evaluasi kritis terhadap sebuah artikel ilmiah yang diterbitkan (atau sedang dalam proses submit) di jurnal terindeks global seperti Scopus, Web of Science, atau database internasional bereputasi lainnya. Tujuan utamanya bukan sekadar meringkas, tetapi menilai secara objektif validitas metodologi, kualitas argumen, dan kontribusi keilmuannya.

Ada dua konteks utama di mana Anda akan menulis review jurnal internasional:

  • Peer review resmi — Anda diminta oleh editor jurnal untuk mengevaluasi naskah sebelum diterbitkan. Reviewer memberikan rekomendasi: accept, minor revision, major revision, atau reject.
  • Kajian literatur akademik — Review dibuat sebagai bagian dari tinjauan pustaka dalam skripsi, tesis, disertasi, atau artikel review sendiri (systematic literature review).
  • Tugas kuliah / mata kuliah metodologi — Dosen memberi tugas menganalisis satu artikel jurnal untuk mengasah kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
  • Bagian dari research proposal — Menunjukkan bahwa peneliti memahami state of the art bidang yang akan diteliti.

Terlepas dari konteksnya, prinsip dasar review sama: evaluasi harus objektif, berbasis bukti, dan konstruktif. Jangan hanya memuji atau hanya mengkritik — review yang baik menyajikan kedua sisi secara seimbang.

Struktur Format Review Jurnal Internasional 2026

Format review jurnal internasional mengikuti struktur baku yang diakui secara global. Berikut adalah lima komponen utama yang wajib ada dalam setiap review, plus komponen tambahan yang menjadi standar baru sejak 2025–2026:

1. Identitas Jurnal dan Artikel

Bagian pembuka wajib berisi metadata lengkap agar pembaca bisa melacak artikel aslinya. Elemen wajib:

  • Judul artikel lengkap
  • Nama seluruh penulis + afiliasi utama
  • Nama jurnal + volume + nomor issue + tahun publikasi
  • DOI (Digital Object Identifier) — wajib untuk artikel di jurnal internasional
  • Nomor ORCID penulis korespondensi (baru wajib di 2026)
  • Kuartil jurnal (Q1/Q2/Q3/Q4) dan status indeksasi (Scopus / WoS)

2. Ringkasan (Summary / Abstract Review)

Deskripsi objektif tentang isi artikel — bukan opini Anda, melainkan apa yang penulis tulis. Panjang ideal 100–200 kata. Wajib mencakup:

  1. Tujuan penelitian & pertanyaan riset
  2. Metodologi (desain, sampel, instrumen, teknik analisis)
  3. Hasil utama (dengan angka/persentase jika relevan)
  4. Kesimpulan penulis

3. Analisis Kritis (Critical Analysis)

Bagian jantung review yang paling menentukan kualitas evaluasi Anda. Bagi menjadi dua sub-bagian: kelebihan dan kekurangan. Setiap poin harus didukung bukti — bukan sekadar “menurut saya”, tetapi “menurut Smith (2023), penggunaan sampel purposive dalam konteks X berpotensi bias”.

4. Rekomendasi (Recommendations)

Saran konkret untuk penulis atau untuk arah penelitian selanjutnya. Bisa mencakup: perbaikan metodologi, penambahan variabel, replikasi di konteks berbeda, atau potensi kolaborasi lintas disiplin. Rekomendasi yang baik adalah rekomendasi yang bisa ditindaklanjuti, bukan generik.

5. Kesimpulan Reviewer

Penutup 2–3 kalimat yang merangkum posisi Anda: apakah artikel layak dipublikasikan, layak dengan revisi, atau perlu ditolak. Untuk peer review resmi, ini seringkali ditulis dalam bentuk recommendation to editor yang terpisah dari review terbuka ke penulis.

✨ Elemen Baru di Format 2026

🤖

AI Usage Declaration

Sejak 2025, hampir semua jurnal Q1 mewajibkan reviewer menyatakan apakah menggunakan AI (ChatGPT, Claude, Gemini) untuk menyusun review, dan bagaimana penggunaannya.

📊

Data Availability Statement

Reviewer diminta menilai apakah artikel menyediakan pernyataan ketersediaan data mentah (open data, repository) sesuai standar FAIR data.

🆔

ORCID Verification

Verifikasi ORCID kini standar wajib — memastikan identitas reviewer dan penulis dapat dilacak untuk mencegah review manipulation.

🔍

Similarity Report

Beberapa jurnal meminta reviewer memperhatikan laporan Turnitin/iThenticate yang disertakan editor sebagai bahan pertimbangan integritas.

🌍

DEI Considerations

Diversity, Equity, and Inclusion — reviewer diharapkan menilai apakah metodologi mempertimbangkan keragaman demografis sampel.

📝

Transparent Reporting

Standar seperti PRISMA (systematic review), CONSORT (clinical trial), atau STROBE (observational study) makin ketat diperiksa.

Contoh Review Jurnal Internasional (Format 2026)

Berikut adalah tiga contoh review jurnal internasional dari tiga bidang berbeda — pendidikan & teknologi AI, kesehatan digital, dan ekonomi berkelanjutan — menggunakan format 2026 lengkap dengan AI declaration. Contoh ini bersifat ilustratif untuk keperluan pembelajaran; artikel yang direview adalah hypothetical example yang mencerminkan tema riset aktual.

Bidang Pendidikan & Teknologi AI

📖 Identitas Artikel

  • Judul: “Generative AI Integration in Higher Education: A Cross-Institutional Study of Learning Outcomes and Ethical Challenges”
  • Penulis: Dr. Maria Rodriguez, Prof. Ahmad Ibrahim, Dr. Yuki Tanaka
  • Afiliasi: University of Barcelona; National University of Singapore; Kyoto University
  • Jurnal: Computers & Education, Vol. 210, Article 105123, 2026 (Q1, Scopus)
  • DOI: 10.1016/j.compedu.2026.105123
  • ORCID Korespondensi: 0000-0002-1234-5678

📝 Ringkasan (Summary)

Artikel ini meneliti dampak integrasi generative AI (ChatGPT-5, Claude, dan Gemini Pro) terhadap capaian pembelajaran mahasiswa di tiga negara. Studi menggunakan desain mixed-methods dengan survei kuantitatif terhadap 1.847 mahasiswa dari 12 universitas dan wawancara mendalam terhadap 42 dosen. Hasil menunjukkan peningkatan efisiensi pembelajaran sebesar 42% pada kelompok yang menggunakan AI dengan pendampingan terstruktur, tetapi tingkat pemahaman konseptual mendalam turun 18% dibandingkan kelompok kontrol. Penulis menyimpulkan bahwa AI generatif harus digunakan sebagai scaffolding tool, bukan pengganti proses berpikir kritis.

👍 Analisis Kritis — Kelebihan

  • Desain penelitian robust — jumlah responden besar (n=1.847) dari tiga konteks budaya berbeda meningkatkan generalisabilitas.
  • Trianggulasi metode yang kuat: data kuantitatif dilengkapi wawancara kualitatif yang memperkaya interpretasi.
  • Isu etis dibahas eksplisit — plagiasi, ketergantungan, dan bias algoritma dianalisis dalam bagian diskusi.
  • Pernyataan ketersediaan data lengkap: dataset tersedia di OSF repository dengan lisensi CC-BY 4.0.

👎 Analisis Kritis — Kekurangan

  • Bias demografis sampel — mayoritas responden dari universitas riset besar, kurang mewakili institusi kecil atau non-selektif.
  • Durasi penelitian terlalu pendek (satu semester) untuk menyimpulkan dampak jangka panjang terhadap keterampilan berpikir kritis.
  • Variabel moderator seperti literasi digital awal mahasiswa tidak dikontrol dengan baik.
  • Perbandingan antar-tool AI (ChatGPT-5 vs Claude vs Gemini) kurang mendalam; dianggap sebagai kelompok homogen.

🎯 Rekomendasi Reviewer

Direkomendasikan Major Revision. Studi lanjutan sebaiknya menggunakan desain longitudinal minimal dua tahun akademik dengan kontrol variabel literasi digital awal. Penulis juga disarankan menganalisis perbedaan efek antar-tool AI secara terpisah, serta memperluas sampel ke universitas non-riset dan pendidikan vokasional. Kolaborasi lintas disiplin dengan peneliti etika AI akan memperkuat pembahasan implikasi.

🤖 AI Usage Declaration (baru di 2026):

Reviewer menggunakan Claude untuk memeriksa tata bahasa Inggris pada draf review, tetapi seluruh substansi analisis, evaluasi kelebihan/kekurangan, dan rekomendasi disusun sepenuhnya oleh reviewer. Tidak ada konten review yang dihasilkan langsung oleh AI.

Bidang Kesehatan Digital & Telemedicine

📖 Identitas Artikel

  • Judul: “Effectiveness of AI-Driven Telemedicine for Chronic Disease Management in Low- and Middle-Income Countries: A Systematic Review”
  • Penulis: Dr. Priya Sharma, Prof. Kwame Asante, Dr. Elena Popescu
  • Afiliasi: All India Institute of Medical Sciences; University of Ghana; Bucharest University
  • Jurnal: The Lancet Digital Health, Vol. 8, Issue 4, e245–e258, 2026 (Q1, Scopus)
  • DOI: 10.1016/S2589-7500(26)00089-2
  • ORCID Korespondensi: 0000-0001-9876-5432

📝 Ringkasan (Summary)

Systematic review ini menganalisis 87 studi (2020–2025) tentang efektivitas telemedicine berbasis AI untuk manajemen penyakit kronis (diabetes, hipertensi, PPOK) di 34 negara berpenghasilan rendah-menengah. Penelitian mengikuti panduan PRISMA 2020 dan menggunakan meta-analisis untuk mengagregasi hasil. Temuan utama: kepatuhan pengobatan meningkat 31% (95% CI: 24–38%), namun kesenjangan akses digital tetap menjadi hambatan struktural. Penulis merekomendasikan pendekatan hybrid (digital + kunjungan fisik berkala) untuk kelompok yang memiliki keterbatasan akses.

👍 Analisis Kritis — Kelebihan

  • Metodologi PRISMA 2020 diikuti secara ketat — protokol pra-registrasi di PROSPERO, diagram alir lengkap, dan penilaian bias dengan ROBIS.
  • Cakupan geografis luas — mencakup Asia Selatan, Afrika Sub-Sahara, Amerika Latin, dan Eropa Timur.
  • Meta-analisis dilaporkan dengan statistik lengkapeffect size, heterogeneity (I²), dan forest plot disertakan.
  • Pertimbangan DEI eksplisit — pembahasan kesenjangan gender, disabilitas, dan literasi digital di setiap sub-analisis.

👎 Analisis Kritis — Kekurangan

  • Publication bias tidak diuji secara memadai — funnel plot ditampilkan tetapi analisis Egger’s test tidak dilaporkan.
  • Studi berbahasa non-Inggris terbatas — hanya 4 dari 87 studi yang diterbitkan di bahasa lokal, berpotensi language bias.
  • Definisi “AI-driven” antar studi tidak seragam — mulai dari rule-based systems hingga deep learning, tetapi diagregasi bersama.
  • Analisis cost-effectiveness hanya disajikan sekilas, padahal krusial untuk kebijakan di LMICs.

🎯 Rekomendasi Reviewer

Direkomendasikan Minor Revision. Penulis perlu (1) melakukan uji formal publication bias dengan Egger’s test dan trim-and-fill analysis, (2) menambahkan sub-analisis stratifikasi berdasarkan tipe AI (rule-based vs machine learning vs deep learning), dan (3) memperluas bagian cost-effectiveness dengan setidaknya 2 halaman diskusi. Perlu juga ditambahkan pernyataan konflik kepentingan yang lebih rinci mengingat beberapa penulis pernah menerima grant dari perusahaan health-tech.

🤖 AI Usage Declaration (baru di 2026):

Reviewer menggunakan Claude untuk mengecek konsistensi terminologi medis dalam review dan memverifikasi rumus statistik yang dikutip. Semua penilaian kualitas metodologis, pemeriksaan bukti, dan rekomendasi adalah hasil analisis reviewer secara mandiri.

Bidang Ekonomi Berkelanjutan & Green Finance

📖 Identitas Artikel

  • Judul: “Green Bonds and Firm-Level Environmental Performance: Evidence from ASEAN Emerging Markets, 2015–2024”
  • Penulis: Prof. Siti Rahmawati, Dr. Nguyen Van Minh, Dr. Somchai Wattanakul
  • Afiliasi: Universitas Indonesia; Vietnam National University; Chulalongkorn University
  • Jurnal: Journal of Cleaner Production, Vol. 458, Article 142876, 2026 (Q1, Scopus)
  • DOI: 10.1016/j.jclepro.2026.142876
  • ORCID Korespondensi: 0000-0003-4567-8901

📝 Ringkasan (Summary)

Studi ini menganalisis pengaruh penerbitan green bonds terhadap kinerja lingkungan perusahaan di enam negara ASEAN (Indonesia, Vietnam, Thailand, Malaysia, Filipina, Singapura) selama periode 2015–2024. Menggunakan pendekatan difference-in-differences dengan sampel 342 perusahaan publik, hasil menunjukkan penurunan emisi Scope 1 dan 2 masing-masing sebesar 12,4% dan 8,7% pada perusahaan yang menerbitkan green bonds dibandingkan kelompok kontrol. Namun, efek pada Scope 3 (rantai pasok) tidak signifikan secara statistik. Penulis menyimpulkan bahwa green bonds efektif mendorong perbaikan operasional langsung, tetapi belum cukup mengubah rantai nilai yang lebih luas.

👍 Analisis Kritis — Kelebihan

  • Data panel yang kuat — 342 perusahaan × 10 tahun, memungkinkan analisis longitudinal yang jarang ditemukan di studi ASEAN.
  • Identifikasi kausal robust — desain DiD dengan uji paralel pre-treatment trends yang meyakinkan.
  • Kontribusi kebijakan jelas — implikasi untuk otoritas pasar modal ASEAN dinyatakan konkret.
  • Transparansi data — kode STATA dan dataset disediakan di GitHub dengan lisensi terbuka.

👎 Analisis Kritis — Kekurangan

  • Definisi “green bonds” terlalu longgar — mencakup obligasi dengan self-labeled green tanpa verifikasi CBI/ICMA.
  • Endogeneity concern belum sepenuhnya diatasi — perusahaan yang menerbitkan green bonds mungkin sudah lebih ramah lingkungan sebelumnya (selection bias).
  • Perbedaan regulasi antar negara tidak dianalisis terpisah — padahal Singapura dan Indonesia punya kerangka regulasi yang sangat berbeda.
  • Data Scope 3 dilaporkan menggunakan estimasi CDP yang kualitasnya tidak seragam antar perusahaan.

🎯 Rekomendasi Reviewer

Direkomendasikan Major Revision. Perbaikan yang diminta: (1) memperketat definisi green bonds ke standar CBI atau ICMA saja, (2) menambahkan instrumen variabel (IV) atau propensity score matching untuk mengatasi kekhawatiran endogeneity, (3) melakukan sub-analisis per-negara terpisah, dan (4) mendiskusikan keterbatasan data Scope 3 dengan lebih transparan. Studi lanjutan disarankan mengeksplorasi peran green finance regulator nasional dalam memperkuat dampak green bonds.

🤖 AI Usage Declaration (baru di 2026):

Reviewer tidak menggunakan bantuan AI dalam menyusun review ini. Seluruh analisis, verifikasi statistik, dan rekomendasi dihasilkan berdasarkan bacaan langsung terhadap naskah dan literatur pendukung.

Tips Menulis Review Jurnal Internasional yang Efektif

Menulis review jurnal internasional yang bagus butuh latihan. Berikut tips praktis dari pengalaman kami mendampingi mahasiswa pascasarjana dan dosen menyusun review — mulai dari yang paling mendasar hingga yang berdampak besar pada kualitas akhir:

  • Baca artikel minimal dua kali sebelum menulis. Bacaan pertama untuk memahami keseluruhan; bacaan kedua untuk mencatat detail metodologi dan angka spesifik.
  • Gunakan sumber referensi kredibel. Kritik metodologi harus disandarkan pada literatur pendukung — bukan opini pribadi. Rujuk buku metodologi atau artikel di jurnal Q1 sebidang.
  • Terapkan analisis objektif — hindari bias. Fokus pada apa yang tertulis di artikel, bukan pada latar belakang penulis atau reputasi institusinya.
  • Gunakan bahasa ilmiah yang jelas. Kalimat singkat lebih baik daripada kalimat panjang yang berbelit. Istilah teknis boleh dipakai, tetapi definisikan bila konteksnya lintas disiplin.
  • Sertakan bukti pendukung untuk setiap klaim. Ketika mengkritik desain sampel, misalnya, sertakan rujukan yang menjelaskan kenapa desain tersebut bermasalah dalam konteks bidang.
  • Berikan rekomendasi yang actionable. “Perbaiki metodologi” adalah rekomendasi buruk. “Tambahkan uji Cronbach’s alpha untuk validasi instrumen kuesioner” adalah rekomendasi baik.
  • Jaga nada review konstruktif. Kritik boleh tajam tetapi tetap sopan; hindari kata-kata yang bernada meremehkan penulis.
  • Nyatakan penggunaan AI secara transparan (baru di 2026). Bila menggunakan ChatGPT atau Claude untuk cek tata bahasa, sebutkan itu dengan jelas.

Kesalahan Umum dalam Review Jurnal Internasional

Berikut kesalahan yang paling sering kami temui dari review yang ditulis penulis pemula — hindari agar review Anda tidak dianggap dangkal atau tidak profesional:

  1. Ringkasan Terlalu Panjang — Review lebih mirip parafrase artikel asli. Solusi: batasi ringkasan maksimal 20% dari total panjang review.
  2. Analisis Dangkal — Hanya menyebut “penelitian ini bagus” atau “kurang mendalam” tanpa bukti. Solusi: setiap poin analisis wajib punya reasoning dan rujukan pendukung.
  3. Tidak Menyebutkan Keterbatasan Penelitian — Padahal ini penting untuk arah riset lanjutan. Solusi: selalu identifikasi minimal 2–3 keterbatasan.
  4. Rekomendasi Terlalu Generik — “Perlu penelitian lanjutan” tidak informatif. Solusi: sebutkan spesifik apa yang perlu diteliti, dengan metode apa, di konteks apa.
  5. Menggunakan Nada Menyerang — Kritik pribadi terhadap penulis bukan review, itu ad hominem. Solusi: fokus pada substansi, bukan orangnya.
  6. Tidak Konsisten dengan Rekomendasi Akhir — Review isinya negatif tetapi kesimpulan “layak terbit”. Solusi: pastikan rekomendasi akhir konsisten dengan isi analisis.
  7. Melewatkan Data Availability Statement — Standar 2026 mewajibkan reviewer menilai transparansi data. Solusi: periksa apakah artikel menyediakan link repository atau alasan jika data tidak dibagikan.

Panjang Ideal Review Jurnal Internasional

Panjang review yang ideal berbeda tergantung konteksnya. Berikut panduan umum:

Panjang Ideal Review Berdasarkan Konteks
Konteks Panjang Ideal Fokus Utama
Peer review resmi jurnal Q1–Q2 1.000–1.500 kata Analisis mendalam + rekomendasi konkret
Peer review resmi jurnal Q3–Q4 600–1.000 kata Analisis inti + saran perbaikan
Kajian literatur (skripsi/tesis) 400–700 kata per artikel Ringkasan + relevansi dengan riset sendiri
Tugas kuliah metodologi 800–1.200 kata Demonstrasi kemampuan analisis kritis
Systematic literature review 200–400 kata per artikel Ekstraksi data terstandar

Kesimpulan

Menulis review jurnal internasional yang berkualitas membutuhkan tiga hal: kemampuan analisis kritis, penulisan ilmiah yang jelas, dan pemahaman metodologi penelitian. Format 2026 menambah standar baru — AI usage declaration, data availability statement, dan verifikasi ORCID — yang membuat proses review lebih transparan dan bertanggung jawab.

Tiga contoh review yang kami sajikan di atas (bidang pendidikan & AI, kesehatan digital, dan ekonomi berkelanjutan) menunjukkan bagaimana struktur baku diterapkan dalam konteks yang berbeda. Gunakan sebagai template awal, sesuaikan dengan bidang keilmuan Anda, dan selalu ingat prinsip dasarnya: evaluasi harus objektif, berbasis bukti, dan konstruktif. Dengan latihan konsisten, kualitas review Anda akan meningkat — dan itu adalah keterampilan yang sangat berharga di jenjang akademik apapun.

Disclaimer: Tiga contoh review jurnal di artikel ini menggunakan artikel hipotetis dan DOI ilustratif untuk keperluan pembelajaran. Format dan struktur review mencerminkan standar aktual jurnal internasional bereputasi tahun 2026, tetapi artikel yang direview bukan artikel nyata. Selalu verifikasi keaslian DOI saat mengutip artikel ilmiah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa perbedaan review jurnal internasional dan literature review?

Review jurnal internasional adalah evaluasi kritis terhadap SATU artikel spesifik, sedangkan literature review adalah sintesis dari BANYAK artikel yang relevan dengan topik penelitian. Review satu artikel biasanya untuk peer review atau tugas metodologi; literature review untuk bab awal skripsi/tesis atau artikel review sendiri.

Berapa panjang ideal review jurnal internasional?

Untuk peer review resmi jurnal Q1-Q2 antara 1.000-1.500 kata; untuk kajian literatur dalam skripsi/tesis sekitar 400-700 kata per artikel; untuk tugas kuliah 800-1.200 kata. Panjang yang efektif adalah panjang yang cukup untuk menyampaikan analisis substantif tanpa bertele-tele.

Apakah boleh menggunakan AI seperti ChatGPT untuk menulis review?

Boleh untuk membantu polishing tata bahasa, tetapi TIDAK BOLEH untuk menghasilkan substansi analisis. Sejak 2025, jurnal-jurnal Q1 mewajibkan AI usage declaration eksplisit. Menggunakan AI untuk generate seluruh review dianggap pelanggaran etika akademik dan bisa berujung sanksi.

Bagaimana cara memberikan kritik tanpa menyinggung penulis?

Gunakan bahasa yang fokus pada karya, bukan orang. Contoh: alih-alih “penulis tidak paham metodologi”, tulis “desain sampel purposive dalam konteks ini berpotensi menghasilkan bias seleksi (lihat Etikan et al., 2016)”. Sertakan rujukan pendukung dan sarankan solusi konkret.

Apakah review jurnal harus dalam bahasa Inggris?

Untuk jurnal internasional bereputasi (Scopus/WoS) hampir selalu ya, karena bahasa jurnal biasanya Inggris. Untuk tugas kuliah atau kajian literatur skripsi/tesis di kampus Indonesia, biasanya bahasa Indonesia dipakai — tetapi tetap dengan struktur formal review internasional.

Apa yang dimaksud AI usage declaration di review jurnal 2026?

Pernyataan eksplisit apakah reviewer menggunakan AI (ChatGPT, Claude, Gemini) dalam proses menyusun review, dan bagaimana penggunaannya. Contoh: “Reviewer menggunakan Claude untuk memeriksa tata bahasa Inggris; substansi analisis disusun sepenuhnya oleh reviewer.” Pernyataan ini disertakan di akhir review.

Bagaimana cara memulai kalau saya belum pernah menulis review sebelumnya?

Mulai dari format terstandar: identitas artikel → ringkasan → analisis kritis (kelebihan & kekurangan) → rekomendasi. Baca 2-3 contoh review yang sudah dipublikasikan (banyak jurnal Q1 sekarang membuka peer review reports secara publik) untuk merasakan tone dan struktur yang tepat. Contoh di artikel ini bisa jadi titik awal yang baik.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *